Di Blitar, Dirjen Hortikultura Kementan Panen Cabai Rawit 24 Ribu Ton
By Admin
Foto/Istimewa
nusakini.com - Kabupaten Blitar, Jawa Timur ternyata salah satu di antara puluhan sentra produksi cabai rawit di Indonesia yang patut diperhitungkan sebagai pemasok ke pasar - pasar di Pulau Jawa. Apalagi menjelang Ramadan dan Idul Fitri, tentu ketersediaan cabai rawit dipastikan aman dan terkendali.
Pasalnya, hari ini, Sabtu (29/4/2017), Direktur Jenderal (Dirjen) Hortikultura Kementerian Pertanian Spudnik Sujono telah ikut memanen cabai rawit di atas lahan 4.850 hektar di Kabupaten Blitar yang terbagi di tiga kecamatan yaitu Panggungrejo, Binangun dan Wates. Jika dijumlahkan yang dipanen hari ini, maka ketiga kecamatan itu menghasilkan 24.250 ton. "Sebab, dari satu hektar saja bisa menghasilkan 5 - 6 ton per hektar," kata Spudnik yang didampingi Direktur Perbenihan Hortikultura Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura Sukarman dan Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) Aneka Cabai dan Sayuran Buah Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Agung Sanusi, serta Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Blitar Nevi Setya Budiningsih usai panen di tiga kecamatan itu.
Menurut Spudnik, hasil panen hari ini saja sebetulnya sudah terbilang melimpah karena dari kebutuhan cabai rawit secara nasional yaitu 73.000 ton, telah terpenuhi sekitar 34 persen. "Kalau ikut Kabupaten Kediri yang rata - rata memproduksi cabai rawit 6 ton per hektar dari luas panen sekitar 2.300 hektar, maka dari kebutuhan nasional itu telah tercapai sekitar 50 persen," terangnya.
Ditambahkan Spudnik, hasil dari hamparan cabai yang begitu luas tersebut, paling tidak sudah bisa mengamankan kebutuhan di bulan Mei dan Juni mendatang. "Mudah - mudahan harga tetap stabil dan tidak naik meroket seperti yang dulu. Kalaupun naik tapi dengan batas - batas yang wajar kita pun memaklumi karena memasuki bulan Ramadhan dan Idul Fitri," katanya.
Oleh karena itu, untuk memacu semangat para petani di sentra - sentra produksi cabai, khususnya di daerah tadah hujan, pihaknya meminta dinas terkait agar mengidentifikasi dimana sumber-sumber air yang dapat diakses untuk bisa membangun penampungan air seperti embung. "Kami lihat tadi pilihan terakhir sumber airnya dari sumur air tanah atau sumur dalam. Tapi embung juga tetap dibutuhkan jika sewaktu - waktu hujan turun bisa tempat menampung air supaya tidak terbuang begitu saja. Kalau tiba kemarau bisa dipakai untuk pertanaman," terang Spudnik.
Untuk itu, Spudnik cecara nasional berharap supaya Kabupaten Blitar bisa menjadi salah satu penyangga kebutuhan cabai rawit nasional disamping Kabupaten Kediri, Tuban, Banyuwangi, Malang dan Magetan di wilayah Jawa Timur sebagai sentra utama cabai rawit merah.
Sementara itu, Nevi Setya Budiningsih membenarkan bahwa luas panen cabai rawit per April - Mei 2017 di daerahnya sekitar 4.800 hektar dengan rincian di Kecamatan Panggungrejo seluas 1.850 hektar, Wates 1.509 hektar dan Binangun 1.500 hektar. "Per hektar bisa panen sampai 6 ton pak. Makanya dengan kondisi seperti itu, ketiga daerah sentra produksi tersebut dapat mengamankan pasokan di wilayah Jawa Timur bahkan diharapkan bisa mensuplay Jabodetabek," ujarnya.
Di pihak lain, Hirmawan Harianto, Kepala Desa Panggungsari, Kecamatan Panggungrejo mengungkapkan bahwa petani di desanya bisa memproduksi cabai rawit sekitar 35 ton sehari. "Kalau normalnya pak, kami bisa panen sehari sekitar 35 ton per hari. Selanjutnya kami kirim ke Pasar Induk Pare di Kediri pak. Bahkan ke Jakarta juga langsung kita kirim. Soal harganya, sekarang ini dari petani sekilonya Rp 37.000," katanya.
Tetapi kemudian, Sarwi Riyanto, champion sekaligus petani Kabupaten Blitar mengharapkan agar hujan tidak terus turun supaya para petani tetap ceria dengan produksi yang telah membaik. "Mudah - mudahan hujan tidak turun tiap hari, cukup sekali dalam satu minggulah. Tetapi jangan kemarau terus, agar panen cabai kami tidak gagal," harapnya.
Menurutnya, selama ini petani di tiga kecamatan tersebut melakukan sistem pola tanam tumpang sari jagung dengan cabai rawit merah dan juga cabai raeit merah dengan jeruk. Pada saat jagung berumur 1 bulan, petani menanam cabai rawit merah sehingga pada saat panen jagung yaitu pada umur 2 bulan, pertumbuhan cabai rawit merah telah memasuki pertumbuhan generatif dan mulai berbunga. "Tentunya sistem pola tanam tumpang sari ini sangat menguntungkan petani dan efisien dalam penggunaan unsur hara," ungkap Sarwi Riyanto.
Namun demikian, terkait dengan lokasi tanaman cabai rawit berada di areal tadah hujan, pihaknyapun berharap pula supaya pemerintah memberikan perhatiannya kepada paea petani. "Karena posisi pertanaman ini ada di puncak gunung, makanya kami butuh bantuan berupa pompa air tanah dengan kedalaman 100 meter," pungkas Sarwi Riyanto. (p/mk)